Oke, tahun ini adalah tahun ke 3 gw sekolah di SMA negeri 21. Sekolah yang awalnya gw bilang bagus, cukup punya 'nama' di Jakarta. Gw masuk 21 karena 1 alasan yang cukup membuat gw dan keluarga gw sedih kalo gw tetep di Penabur..
Tahun pertama, gw masih bener-bener mengexplorasi sekolah ini. Gw ikutin beberapa eksul yang bener-bener eksis, kayak basket dan paskibra. Yang terakhir taekwondo.
Tapi di ekskul basket, gw cuma bertahan 1 tahun karena di kelas XI, gw ada les di hari Jumat..
Paskib juga.. Gw merasa ngga berguna banget, karena pengetahuan gw tentang paskib tuh pas-pasan banget..
Tahun kedua, gw mulai ngerti sekolah gw tercinta ini.
Perubahan yang di lakukan sekolah menuju yang lebih baik, tidaklah banyak. Gw mulai merasa, 'duh, pelit banget sih, 21 ini. apa-apa mesti bayar, minta ini, minta itu, sama orang tua murid. Emang ngga malu, ya?'
Tahun ketiga ini, SMA negeri 21 jadi sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Tapi, fasilitas yang ada tuh ngga memadai sama sekali. Uang sekolah doang yang naek, lama-lama 21 jadi Rintisan Sekolah BERTARIF Internasional.
Sejujurnya gw sedih banget karena perubahan yang ada tuh lambat banget. Terkadang gw iri sama anak-anak sekolah swasta, kayak Penabur, ato SMA negeri 8, deh, yang cukup bermodal untuk bikin acara-acara bermanfaat.
Dalam hati gw berkata, 'nanti kalo gw udah jadi orang berada, gw bakal bantu 21 deh, biar fasilitasnya bisa jadi lebih bagus dari sekarang.'
AMIN.
Cukup banyak kekurangan yang ada di SMA negeri 21, antara lain:
1. Terkadang guru-guru yang ada di 21 itu males ngajar (yaa, ngga semua, sih).
2. Ada juga guru yang ngajar nya ngga enak (ngga semua juga, sih. Yang ngajarnya enak juga banyak).
3. Ada guru yang sok tahu dan ga mau di salahin (cuman 1 guru sih yang gw tau, yang laennya mau kok di koreksi kalo ada kesalahan).
4. Fasilitas untuk jadi RSBI itu kurang banget :(
Kemana nih duit pangkal yang udah kita bayar waktu kelas 1 dulu?
5. Pulang nya terlalu sore, jadi pas jam pelajaran terakhir, anak-anak nya udah pada ngga konsen lagi.
Tapi di sisi laen, sekolah gw tercinta ini punya kelebihan di mata gw..
1. Walau murid-muridnya berasal dari suku yang berbeda-beda, tapi mereka semua membaur jadi 1. Biar beda agama, suku, dan ras nya pun, ngga ada tuh yang pilih-pilih temen.
2. Di 21 gw belajar banyak tentang persahabatan, bagaimana menyelesaikan suatu masalah, dan yang terakhir adalah AGAMA.
Sepanjang hidup gw, gw menghabiskan waktu belajar gw di BPK PENABUR. Jelas sekali agama yang diajarkan berbeda dengan agama yang gw anut sekarang.
3. Di 21 juga gw belajar untuk menjadi seorang yang dewasa, yang bisa adil, walau pun itu susah banget. Gw yang egois, gw yang mau menang sendiri, masih belom bisa gw lepasin.
4. Gw ngedapetin temen yang bisa gw ajak cerita, gw ajak bercanda. Kalo di penabur, temen gw ngga sebanyak di 21..
5. Gw belajar untuk berorganisasi di ROHIS. Memang ngga terlalu berpengaruh, tapi setidaknya gw belajar untuk mengatur jadwal, bedisiplin waktu (di sanlat, TA, dll)
Lalu, gw juga menemukan lagi "bakat" gw yang sempet gw tutup, yaitu nulis.
Gw lebih mencurahkan itu dengan bercerita pada temen gw, tapi gw sadar terkadang itu ngga efektif. Bisa aja kan, temen kita itu ngebocorin rahasia kita..
Gw mulai aktif lagi saat gw bikin account fanfiction, yang terinspirasi dari salah satu senior gw, kak Luthfia Nadia. Dia ikut Rohis, dia ikut sanlat, tapi kenapa gw baru tahu dia pas akhir-akhir ini aja, ya? Hehe
Thankyou banget loh, kak. Dari fanfiction itu gw bisa mencurahkan masalah yang ada di hidup gw. :D
Lalu, Thankyou GOD, biarpun gw di kasih bakat untuk menggambar yang pas-pasan, tapi Kau memberikan gw kemampuan untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf, dan merangkai paragraf menjadi sebuah karangan fanfiction yang bisa menghibur orang banyak.
Okey, untuk hari ini, itu yang pengen gw share di blog gw ini ^^
Jumat, 06 Agustus 2010
21 lagi..
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 17.33 0 komentar
Sabtu, 12 Juni 2010
21
well.. 21 lagi, 21 lagi.. banyak banget pendapat gw tentang 21.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 06.10 0 komentar
Rabu, 02 Juni 2010
Please, Show me your Smile :D
(flashback) Hitsugaya Toushiro berjalan di koridor markas Divisi 10 menuju kantor administrasi, tempat ia biasa menghabiskan harinya mengerjakan paperwork yang menumpuk. Beberapa anggota Divisi 10 membungkuk hormat dan menyapa ketika ia melintas di depan mereka dan taichou berambut putih itu hanya membalas dengan 'hn' singkat. Winter War akan tiba beberapa hari lagi. Semua shinigami dari seluruh divisi di Gotei 13 mempersiapkan perang terbesar dalam sejarah panjang Soul Societyitu. Sudah tidak ada lagi yang namanya bersantai-santai dan bersenang-senang. Yang ada hanya ketegangan menghadapi perang mendatang tersebut. Hitsugaya sudah sampai di depan pintu kantornya. Ia mengulurkan tangan meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Ketika pintu sudah terbuka sepenuhnya, ia terkejut ketika mendapati Matsumoto Rangiku, fukutaichou-nya, sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar. Yang membuatnya lebih heran, wanita berambut emas itu membawa sebuah kue kecil dengan sebuah lilin menyala di atasnya. "Tanjoubi omedettou, Taichou!" seru Matsumoto, membuat kening atasannya berkerut. Melihatnya, ia melanjutkan, "jangan bilang kalau kau lupa hari ulang tahunmu sendiri, taichou!" Kening Hitsugaya makin berkerut, membuat ujung alisnya bertautan. "Hentikan melakukan hal yang tidak perlu, Matsumoto," katanya dingin. "Aku tidak perlu pengingat kapan hari ulang tahunku. Sekarang, kerjakan paperwork-mu." Matsumoto cemberut. "Kau jahat, taichou. Padahal aku sudah susah payah membuatkan kau kue ini," katanya pada Hitsugaya yang baru saja duduk di kursinya, menatap tumpukan dokumen yang harus diselesaikannya hari ini. Hitsugaya mengambil penanya dari dalam laci dan mulai mengerjakan aktivitas rutinnya itu. Tanpa mengangkat kepalanya dari kertas yang sedang dibacanya, ia menjawab, "kalau begitu, kau saja yang makan." "Tapi taichou, aku membuatnya untukmu!" balas Matsumoto seraya berjalan mendekati taichou-nya. "Setidaknya, tiuplah lilinnya dulu sebelum meleleh." Hitsugaya mengangkat kepalanya dan menatap fukutaichou-nya. Ia menghela napas mengalah karena ia tahu wanita di depannya ini tidak akan menyerah sebelum apa yang diinginkannya dapat tercapai. "Baiklah," katanya kemudian. Senyum Matsumoto kembali terlihat di wajahnya dan ia menyodorkan kue yang sedari tadi dibawanya ke Hitsugaya. Ketika Hitsugaya akan meniup lilinnya, Matsumoto tersentak. "Tunggu dulu!" serunya. Hitsugaya berhenti dan menatap fukutaichou-nya heran. "Kenapa?" Matsumoto tersenyum makin lebar. "Sebelum meniup lilinnya, kau harus mengucapkan permintaan dulu, taichou!" katanya. "Permintaan yang diucapkan saat kita ulang tahun akan selalu terkabul." "Tidak." "Oh, ayolah taichou..." kata Matsumoto manja. "Tidak." "Uh, taichou. Kau tidak asik." "Tentu saja. Aku ini seorang taichou, bukan badut." "Ayolah taichou... Memangnya kau tidak punya harapan sama sekali?" "Tentu saja aku punya." "Lalu, kenapa kau tidak mau melakukannya? Kan mengucapkannya dalam hati." Hitsugaya terdiam sebentar lalu menjawab, "baiklah." Ia memejamkan matanya selama beberapa detik kemudian membukanya, memperlihatkan sepasang bola mata berwarna emerald yang berkilau indah. Matsumoto mendekatkan kue yang ia pegang ke Hitsugaya dan dalam sekejap, api lilin itu sudah padam. "Apa yang kau minta, taichou?" "Kalau kukatakan sekarang aku takut permintaanku itu tidak akan terkabul." (end of flashback) Badai semakin mengganas. Langit yang tadinya cerah kini tertutupi awan-awan hitam, membawa butiran-butiran air hujan yang sekarang sudah turun dengan derasnya. Petir menyambar bersahut-sahutan seperti alunan sebuah simfoni karya maestro terkenal. Angin bertiup sangat kuat, menerbangkan daun-daun musim gugur yang telah meranggas dari pohonnya. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menembus badai. Ia berjalan sambil menunduk, tangan terkepal kuat, dan kakinya yang kaku membawanya pergi seolah tanpa beban. Sementara orang lain berlarian mencari tempat untuk berteduh, ia menghadapi badai sendirian, menolak untuk berlindung dari badai. Lumpur menempel di kakinya, tetapi dengan cepat tersapu oleh air hujan. Ia memejamkan matanya dan mengadah ke langit yang gelap. Ia berharap hujan meninggalkannya sendirian. Ia tak ingin diganggu. Yang ia inginkan hanyalah terus berjalan ke atas bukit yang ada di depannya, tanpa diganggu oleh hujan, angin, dan petir yang seolah mengikutinya ke manapun ia pergi. Petir sekali lagi menyambar membelah langit dan diikuti dengan suara guruh. Hujan turun lebih deras dari sebelumnya. Tiba-tiba petir menyambar pohon besar yang baru saja dilewatinya, membuat pohon yang tadinya kokoh itu tumbang. Tapi ia tak mempedulikannya. Tubuhnya sudah tak bisa merasakan apapun lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus berjalan dan berjalan sampai ia tiba di tempat yang ia tuju. Semakin lama ia melangkah, ia mendapati dirinya terasa lebih berat. Itu bukan karena shihakusou-nya yang telah basah terguyur air hujan dan juga bukan karena jalan belumpur yang ia tapaki. Tapi hatinya. Ia merasa hatinya dibebani sesuatu. Sesuatu yang tak ingin ia katakan atau ia pikirkan. Langkahnya memberat ketika akhirnya ia sampai di puncak bukit. Ia melihat sebuah batu nisan yang berdiri tegak di bawah naungan sebuah pohon besar yang sedang bertarung melawan badai yang nampaknya memasuki masa klimaksnya. Begitu ia mencapai batu nisan tersebut, lututnya tiba-tiba kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhnya sehingga ia jatuh berlutut di atas tanah. Tapi ia tak peduli. Dalam keadaan berlutut, tangannya menggapai batu nisan bertuliskan nama teman masa kecilnya itu. "Gin..." bisiknya pelan. Winter War telah usai lebih dari setengah tahun yang lalu dengan kemenangan di tangan Soul Society. Aizen berhasil dikalahkan oleh Hitsugaya Toushirou, taichou Divisi 10, dibantu Kurosaki Ichigo, shinigami pengganti dari Karakura. Seluruh espada dan arrancar sudah berhasil dimusnahkan dari muka bumi ini. Bahkan Hougyoku juga sudah dihancurkan oleh sang penciptanya sendiri, Urahara Kisuke. Ichimaru Gin juga sudah tewas, tetapi dengan cara yang lain. Ia tewas karena melindungi Matsumoto Rangiku, satu-satunya wanita yang pernah dicintainya, dari serangan fatal yang dikeluarkan oleh Aizen. Matsumoto menatap nisan di hadapannya dalam-dalam. Ingatannya masih segar akan kenangan pahit yang menimpanya ketika Winter War mencapai puncaknya. Saat itu, ia sedang berhadapan satu lawan satu dengan Ichimaru ketika tiba-tiba Aizen datang menginterupsi dan mulai menyerang Matsumoto. Mantan taichou Divisi 5 itu lalu melayangkan tusukan mematikan ke arah Matsumoto tetapi berhasil dihentikan oleh Ichimaru dengan mengorbankan tubuhnya sendiri... Matsumoto merekam setiap kejadian dengan sempurna. Ia masih ingat betul ketika Kyouka Suigetsu menembus dada mantan taichou berambut perak itu, menerima serangan mematikan itu demi menyelamatkan wanita yang dicintainya. Kemudian Hitsugaya datang dan bertarung melawan Aizen sementara Ichimaru terbaring lemah di atas tanah dengan kepala di pangkuan Matsumoto. Dengan mengumpulkan segala kekuatan yang masih tersisa, Ichimaru mengucapkan kata-kata perpisahan, kata-kata terakhirnya yang ia tujukan kepada Matsumoto. "Ran-chan, aku minta maaf karena semuanya berakhir seperti ini. Maaf, aku tak bisa membuat akhir yang indah untukmu. Maaf, aku tak bisa membahagiakanmu," katanya waktu itu sambil tersenyum lemah. "Tapi dia bisa, Ran-chan... Aku tahu dia bisa. Aku tahu dia mencintaimu sepenuh hatinya. Dialah yang akan membuatkan akhir yang indah untukmu. Kumohon, bahagialah... Karena aku tahu kau juga mencintainya..." dan setelah itu, kepalanya jatuh terkulai di atas pangkuan Matsumoto. Hatinya terasa sakit setiap kali ia memutar memori menyedihkan itu dalam benaknya. Hampir setiap malam ia terbangun karena mimpi buruk yang terus membayanginya dari masa lalu itu. Matsumoto mengelus nisan bertuliskan nama orang yang dulu pernah dicintainya itu. Air matanya yang sudah mengalir turun di pipinya tersamarkan keberadaannya oleh air hujan. Hujan masih turun dengan derasnya, tetapi entah mengapa ia menikmati setiap tetes air yang jatuh di atas kepalanya. Ia berharap semoga rasa sakit di hatinya dapat luruh tersapu oleh air hujan dan hanyut bersama aliran air. Tiba-tiba saja ia merasa ada yang jatuh di atas kepalanya dan langsung mendongak, menyebabkan ia bertemu pandang dengan orang yang sangat tak disangkanya. "Kau bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti itu, Matsumoto..." xxx Hitsugaya Toushirou berlari mendaki bukit sambil berusaha mencari-cari keberadaan fukutaichou-nya dengan melacak reiatsu-nya. Badai ia hiraukan seolah itu hanyalah angin sepoi-sepoi. Ia khawatir dengan keadaan mentalnya yang menurun drastis semenjak Winter War usai. Hampir setiap malam, ia bisa mendengar suara tangis wanita bermata abu-abu itu di dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Hitsugaya di markas Divisi 10. Taichou Divisi 10 itu menghembuskan nafas lega setelah ia akhirnya melihat orang yang sedang dicarinya itu berada di puncak bukit tak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil tersenyum kecil, ia terus berlari sampai akhirnya ia berhenti tepat di belakang wanita yang sedang berlutut itu. Tapi, senyumnya segera memudar ketika ia mendengar suara isakan kecil di depannya. 'Matsumoto...' Tanpa pikir panjang, ia melepas haori putihnya dan menempatkannya di atas kepala Matsumoto agar ia terlindung dari tetesan air hujan. Ia bisa mendengar wanita itu terkesiap kaget dan memutar lehernya sehingga bisa menatapnya. Tenggorokannya tercekat saat ia melihat wajahnya. Ia langsung tahu kalau fukutaichou-nya sedang menangis walaupun air matanya bercampur dengan air hujan yang jatuh di wajahnya. Entah sejak kapan dadanya terasa perih ketika ia melihatnya bersedih. "Kau bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti itu, Matsumoto..." katanya setelah ia menemukan suaranya. Sungguh, ia benar-benar tak sanggup melihat raut sedih yang terpancar dengan begitu jelasnya dari wajah cantik fukutaichou-nya itu. "Taichou..." kata Matsumoto tak lebih dari sebuah bisikan. Ia lalu berbalik memunggungi Hitsugaya dan menunduk. "Untuk apa kau datang ke sini?" bisiknya lagi. Hitsugaya membiarkan kebisuan tercipta di antara mereka sebelum ia menjawab pelan. "Aku... Aku datang mencarimu, Matsumoto..." Kebisuan kembali tercipta di antara mereka. Yang terdengar di telinga mereka hanya suara hembusan angin kencang dan suara tetes-tetes hujan dengan suara menggelegar guruh menjadi latar belakangnya. Hitsugaya tak tahu apa yang harus dilakukannya menghadapi seseorang yang jiwanya sedang labil seperti keadaan fukutaichou-nya saat ini. Tanpa disadarinya, tangan kanannya meraih bahu kanan Matsumoto dan meremasnya pelan. Tubuh Matsumoto yang tadinya tegang langsung rileks begitu berkontak dengan sentuhan lembut yang diberikan Hitsugaya. "Taichou..." panggil Matsumoto pelan. "Ya?" Matsumoto tampak ragu sebentar sebelum melanjutkan, "kenapa... satu-satunya orang yang benar-benar peduli padaku harus meninggalkanku dengan cara seperti ini?" katanya pelan. Ia dapat merasakan tangan di bahunya menengang dan reiatsu di belakangnya meningkat tajam. "Walaupun aku tahu kalau Gin tetap akan mati, tapi tetap saja... Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Kenapa ia harus mati karena melindungiku? Harusnya ia mati dieksekusi! Kenapa...?" Matsumoto berhenti karena ia mendapati tangan di bahunya telah pergi, digantikan dengan dua lengan kecil yang memeluk lehernya dari belakang. Ia bisa merasakan hembusan nafas taichou-nya di dekat wajahnya, membuat ia merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia temui. Pipi mereka saling bersentuhan, sehingga ia bisa merasakan sensasi dingin dari kulit taichou-nya. Ia merasa sangat nyaman dalam posisi seperti itu. "Taichou..." "Jangan berkata seperti itu lagi, Matsumoto... Banyak yang peduli padamu..." kata Hitsugaya pelan. Matsumoto menggeleng pelan. "Mereka hanya peduli dengan fisikku saja... Tak ada selain Gin ya—" "Aku peduli padamu, Matsumoto... Aku tak tahan melihat kau terus-terusan seperti ini. Maafkanlah dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum meminta orang lain memaafkanmu karena tak ada yang bisa mengerti selain kau sendiri. Lupakan masa lalu dan jadikan itu sebuah pelajaran agar jangan sampai terulang nanti... Bukankah itu yang kau katakan dulu padaku?" "Tapi—" "Matsumoto, aku... Aku mencintaimu..." Matsumoto tertegun mendengar pengakuan yang keluar dari mulut taichou-nya. Ia mengedip-ngedipkan matanya tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Namun ia merasa kedua lengan yang melingkar di lehernya menguatkan pelukannya, membawa tubuhnya lebih mendekat ke Hitsugaya. "Taichou..." Tanpa sadar, Matsumoto menggenggam tangan Hitsugaya erat, seolah tak ingin membiarkannya pergi. Tiba-tiba kata-kata terakhir Ichimaru berputar kembali di benaknya. "Aku tahu dia mencintaimu sepenuh hatinya. Dialah yang akan membuatkan akhir yang indah untukmu. Kumohon, bahagialah... Karena aku tahu kau juga mencintainya..." Apakah taichou-nya yang dimaksud oleh Gin? Apakah ia benar-benar mencintainya? "Kumohon, Matsumoto... Jangan bersedih lagi..." Matsumoto tiba-tiba tersenyum. Ia mengelus tangan Hitsugaya dan meyakinkannya agar tidak khawatir lagi. "Terima kasih, taichou... Seperti nya aku juga.. Mencintaimu" (flashback) "Ayolah taichou... Memangnya kau tidak punya harapan sama sekali?" kata Matsumoto manja pada taichou-nya. Tanpa berpikir, Hitsugaya dengan cepat menjawab, "tentu saja aku punya." 'Benar. Tentu saja aku punya. Aku ingin menjadi lebih kuat agar bisa membunuh Aizen. Aku ingin orang-orang tak menganggapku anak kecil lagi. Aku ingin jadi lebih tinggi. Tapi sekarang, aku hanya punya satu keinginan di atas segalanya. Satu permohonan.' "Lalu, kenapa kau tidak mau melakukannya? Kan mengucapkannya dalam hati." Hitsugaya terdiam sebentar lalu menjawab, "baiklah." Ia memejamkan matanya selama beberapa detik kemudian membukanya, memperlihatkan sepasang bola mata berwarna emerald yang berkilau indah. Ia menatap Matsumoto sebentar lalu tersenyum lembut. Matsumoto mendekatkan kue yang ia pegang ke Hitsugaya dan dalam sekejap, api lilin itu sudah padam. "Apa yang kau minta, taichou?" "Kalau kukatakan sekarang aku takut permintaanku itu tidak akan terkabul." 'Aku ingin kau, Matsumoto Rangiku, selalu bahagia. Selama kau bahagia, aku juga akan bahagia. Sederhana, kan?' (end of flashback)
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 23.45 8 komentar
Minggu, 30 Mei 2010
1 year again in 21 SHS
Yeah.. Ga berasa, waktu udah menunjukkan tahun 2010, bulan Mei akhir. Itu akhirnya uda tinggal 1 bulan lagi gw berada di kelas XI SMA negeri 21, tepatnya di XI IPA 1 a.k.a LENCIST.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 03.08 0 komentar
Jumat, 21 Mei 2010
Just one of my problem :D
Humm.. Pulang sekolah lagi. Biasa, yang nama nya sekolah, pasti kerjaannya itu2 aja.. Belajar, sekolah, pulang, les, tidur, dan temen2 nya. apalagi uda mau kelas 3..
Gw lagi ada masalah sama orang yang selama ini deket sama gw.. Dan itu membuat gw cukup kesel.
Yaaa... Setiap sekolah punya kegiatan ekstrakulikuler donk.. Nah, gw tergabung di salah satu nya, yaitu Tae kwon do.
Emank sih, anak taekwondo di 21 tuh dikid banget. Tapi gw suka karena kita deket satu sama laen.. Lintang. Afthon. Ihram. Alvin. Gw. Mia. Rafdli. Sari. Vhanya. Bella.
Gw selalu susah buat ninggalin ni ekskul. Entah kenapa. Padahal gw itu udah males banget. Gw selalu pengen berenti. Males latihan. Tapi kenapa gw kaga mau ninggalin yee?? *Bingung, haha*
Yang nama nya hidup.. Pasti selalu ada masalah donk. Skarang masalah Ihram sama Bella. Ihram cerita ke Cindy, temen sekelasnya, yang notabene temen gw juga, begini..
Di taekwondo itu ada 3 best couple... Yang pertama, Lintang en Mia (pada kenyataannya ini kan emank bener). Trus yang ke 2 itu.. Alvin en Sari (cuman gossip anak2 taekwondo doank koq. Haha). Trus yang ke 3 itu Ihram en Bella (Ihram bilangnya dia sama Bella itu jadian beneran. udah 2 bulan. Padahal pada kenyataannya, ITU BOHONG BESAR!).
Gw ga habis pikir, kenapa Ihram sengaja ngelakuin hal itu. Yaa.. Mungkin kalo suka trus bilangnya si Bella itu gebetannya, masih oke lah, karena mereka sendiri belom jadian beneran. Tapi ini koq malah ngaku2 sebagai pacarnya Bella. Jujur aja, gw sebagai orang yang deket sama Ihram sejak kelas X, kesel banget.. Bukan apa-apa ya, tapi gw kesel karena Ihram udah "fitnah" Bella, yang juga temen deket gw. Trus dia pake bilang ke temen2 sekelasnya, lagi. Hendy udah tau. Yakub udah tau. Siapa lagi yang udah tau mengenai pemberitaan yang bohong itu?
Kalo emank lu suka sama Bella, please deh, DEKETIN DULU, TRUS KALO UDAH JADIAN BENERAN, BARU BOLEH BILANG BELLA TUH CEWEK LU!
Gara2 berita bohong itu, yang kena imbas nya kan Bella juga. Lu mau Bella ikut2an pusing gara2 masalah itu? Apa karena lu pikir, karena ga banyak orang yang kenal Bella, jadi lu bisa seenak nya nyebarin gosip ga bener itu? Itu egois, tau.
Kalo lu mau jadian, jangan begini cara nya. Ga bener..
-Gw harap kalo orang nya baca ini di blog gw, dia cepet sadar en ga begitu lagi-
:((
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 01.17 0 komentar
Selasa, 18 Mei 2010
Bakat ATAU Minat?
Well, ada 1 hal yang mengganjal di pikiran gw sejak pelajaran BK tadi..
Gw nanya sama guru BK gw:
Gw: "bu, kalo kita milih kuliah, mendingan ngikutin minat ato bakat?"
Bu esther: "Bakat. Karena bakat ga mungkin berubah. kalo minat kan tergantung dari lingkungan kita.. Lagi pula, kalo minat yang di paksakan jadi bakat, sebagus apa pun hasilnya, ga akan pernah sebagus bila bakat yang di paksakan jadi minat"
Yahh.. Emank sih, jika kita ngikutin bakat kita, mungkin aja akan lebih mudah untuk maju.. Tapi, setau gw, bakat tuh cuman 10% dalam menentukan keberhasilan seseorang.. Yang 90% nya? Kerja keras..
Orang selalu bilang, "Ikutin apa kata hati nurani lu, biasa nya itu bener.."
Pribadi gw bilang, mending masuk Psikologi. Tapi di sisi laen, gw pengen masuk Teknik Kimia.. Yah.. Emank kemungkinannya 60 : 40 sih, tapi.. Apakah gw akan sanggup bertahan di teknik kimia? Berapa lama waktu yang bakal gw abisin di teknik kimia? Berapa lama waktu yang bakal gw abisin di psikologi? Biaya?
huyuh~ ~_~
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 01.59 0 komentar
Senin, 17 Mei 2010
Harian..
Yah, seperti biasa, gw baru aja pulang dari sekolah..
Kehidupan keras di sekolah *HALAH, baru aja sekolah, belom kuliah, belom kerja. haha*
emank bikin gw cukup pusing..
Kemaren, setau gw, guru matematika dan guru fisika mengatakan kalo hari ini ada ulangan.. Dan, well, gw cukup khawatir dengan tuh 2 mapel.. padahal selama ini gw ga pernah khawatir dengan pelajaran2 IPA.. Mungkin karena materi yang di berikan, gw blum menguasai sepenuhnya, kali, ya..
Trus gw kan cerita2 gt sama Yuvi dan Ayu, biasa.. Mengeluh soal -D-.. Sebenernya, kenapa sih tabiat si -D- tuh kayak gitu? Bingung deh gw.. Sikapnya itu loh, layaknya cewek kegatelan, yang kerjaannya ngejar2 makhluk yang bernama "COWOK" melulu?? Kayaknya dia ga demen banget ngeliat temennya tuh deket sama cowok.. Pengen kenalan mulu.. Arghh.. Kenapa sih.. -__-
Yah.. Mungkin gw juga harus refleksi diri gw.. Gw juga mengejar yang nama nya "COWOK"... Tapi..Apakah harus lebay??
Dan harus maksa2 dari orang laen?
Dan.. Menurut gw,, Kesan pertama dari cowok itu lumayan penting.. Apakah harus bersikap lebai di depan cowok yang notabene baru kita kenal??
Apakah harus TP di depan cowok yang cakep, ato gmana??
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 01.39 0 komentar
