"Don't judge a book by it's cover".
Kalimat yang selalu gue inget, tapi susahnya minta ampun buat dilakukan. Suer, deh. Yah, itulah yang gue alami selama kurang lebih 3 bulan ini.
First, I'm a freshman in University of Indonesia. Fakultät für Psychologie. Gott sei Dank, dass Sie meinen Weg näher an meinen Traum. Yah, walau nyangkutnya di kelas paralel, sih. :)
Second, I have a lot of new friends. But I only close with few of them. Thanks God (again), you make my day brighter by some new friends.
Third, I hear gossip that 1 of my friend is gay. What? I really don't believe it. I checked it at his facebook, and it's true what my friends' words. *Sighed*
But, time flies. Very fast. And you know, he doesn't like what I think. Also, he is not gay. He still love girls, but also boys, too (yeah, it's better, I think). I don't really get it, but he really a nice guy. Err.. A little different from another boys, but he really2 a nice guy! His style (maybe) looks like a gals, but it's not the problem, right?
From the third point, I learn that we can't judge someone only by hearing a gossip, or just searching his social life in facebook, but we also need to learn directly by be friend with him/her.
Selasa, 22 November 2011
3 months as a freshman
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 05.20 0 komentar
Sabtu, 08 Oktober 2011
AKU dan DIA
Human names used.
Enjoy!
Mereka, Gilbert Weillschmidt dan Elizaveta Héderváry, adalah sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Tapi, itu ketika mereka masih balita. Mereka dipisahkan karena keegoisan orang dewasa.
“Gil! Kamu mau pergi ke mana?” teriak Elizaveta ketika melihat sahabatnya, Gilbert, ditarik pergi oleh nation yang sudah dewasa, entah kenapa.
“Eliza, helft mir*!” teriak Gilbert yang sudah kepayahan menahan agar ia tidak ditarik.
Elizaveta berlari untuk menolong Gilbert.
“Nona Eliza, kau di sini saja, tidak perlu menolongnya,” kata nation yang lain, menahan Elizaveta untuk tidak menolong Gilbert.
“Tapi..” Eliza tidak kuasa menahan tarikan nation itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Eliza.
Ya, mereka terpisah untuk alasan egois orang dewasa.
23 tahun kemudian..
“Baiklah saudara-saudara! Hari ini kita akan mengadakan pemilihan lurah yang baru!” kata sang lurah lama, Arthur Kirkland.
“Dan kita sambut, calon lurah dan wakilnya yang pertama, Roderich Edelstein dan Francis Bonnefoy!” teriak si camat lama, Alfred F. Jones.
Pasangan aneh bin ajaib (author dilempar grand piano ama Roderich) ini naik ke atas panggung.
“Yo, saya Roderich,” ucap Roderich, memperkenalkan dirinya singkat, sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Dan saya Francis, si cowok romantis,” kata Francis sambil melempar senyuman terindahnya.
Para wanita hampir saja nosebleed, tapi nggak jadi.
“Dan kami adalah fans dari marie Antoniette! Jangan lupa coblos bunga mawar!” lanjut Francis bersemangat.
Yang nonton sweatdrop.
“Oke, oke, silahkan turun, wahai lelaki cantik,” kata Arthur, yang disertai oleh jitakan Roderich dan Francis di alis Arthur.
“Selanjutnya, pasangan kakak beradik bishie, Gilbert Weillschmidt dan Ludwig van Beethoven, eh salah, Ludwig aja, maksudnya!” ucap Alfred bersemangat.
“Hallo, minna-san! Saya si awesome Gilbert,” kata Gilbert dengan PD-nya.
“Dan saya Ludwig,” sambung Ludwig.
“Kami cowok Aria seksi~” sambung Gilbert sekali lagi, yang disertai siulan dari penonton.
“Oke penonton! Sekarang tinggal bagaimana anda memilih! Jangan sampai anda menyesal karena salah pilih!” ucap Alfred dengan semangatnya.
Arthur sibuk menghasut para penonton biar memilih pasangan Gilbert dan Arthur.
.
.
“Berhubung pengumuman pemenangnya baru diadakan nanti sore, kami, selaku pengurus yang lama, ingin mengadakan sedikit hiburan! Kami mengundang penyanyi dangdut local yang terkenal, Elizaveta Héderváry dan Nesia Wulandari~” teriak Alfred dan Arthur hampir berbarengan.
Elizaveta dan Nesia naik ke atas panggung bersama orchestra musiknya.
“Elizaveta.. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu,” gumam Gilbert.
“Hem? Ada apa, Bruder?” Tanya Ludwig yang sedang duduk di sebelahnya.
“Ah, tidak apa, kok,” kata Gilbert tersenyum, memamerkan sederet giginya yang putih.
“Veee~” ucap sebuah suara, tiba-tiba, dan memeluk Ludwig.
“Fe.. Feliciano, ngapain kamu di sini?” Tanya Ludwig kaget melihat “uke”nya tiba-tiba datang.
“Tidak, aku hanya bosan saja di rumah, dan aku ingin melihat acara hiburannya,” jawab Feliciano dengan santainya.
.
“Yak saudara-saudara sekalian, saya bersama dengan teman-teman saya datang untuk menghibur anda semua!” kata Eliza, sang penyanyi dangdut berambut coklat muda ini.
Para penonton –yang rata-rata adalah pemuda—langsung bersiul riuh rendah, karena kedua wanita ini adalah wanita yang cantik dan anggun, dengan pakaian menawan.
Musik mulai mengalun, dan kedua wanita itu mulai menyanyi.
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Alfred udah joget-joget gaje. Tadinya dia udah ngajak Arthur untuk menemaninya, tapi Arthur menolak, karena ia masih sibuk menghasut para pemilih untuk memilih pasangan Gilbert dan Ludwig.
Francis juga, udah sibuk sendiri, dia begitu terpesona dengan gaya kedua wanita pedangdut itu.
Gilbert masih sibuk mikir, apakah ia pernah mengenal Elizaveta atau tidak.
Ludwig asyik mojok (?) sama Feliciano.
Nether –yang tau-tau udah ada di sebelah Gilbert-- , nyenggol temen sebelahnya, “Ini penyanyi kok cakep dua-duanya, ya?” ucapnya.
“Hmmm, hmmm, tapi tidak se-awesome aku,” kata Gilbert seenaknya.
“Kau ini, masiiiih saja menganggap diri mu awesome! Asem kale yeee,” kata Nether sambil menjambak rambut putih Gilbert.
“Eeeehh.. Ampun, ampuun,” ucap Gilbert sambil mengaduh kesakitan.
Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan
Selesai lagu itu, para penonton tampaknya begitu terbuai dengan Eliza dan Nesia. Francis langsung naik ke atas panggung, memberikan berpuluh-puluh bunga mawar pada penyanyi.
“Woy Francisss~ Jangan curang kamuu!” protes Gilbert dan Nether – yg langsung ikut-ikutan mendekati panggung, lalu menarik kaki Francis. Francis kehilangan keseimbangan – dan jatuh.
“Apa-apaan kaliaaan~~” ucap Francis marah – spontan memberikan bogem mentah ke Gilbert dan Nether.
“Heh, kau yang mulai duluan, mesum!” protes Gilbert, yang mencubit pipi Francis dan berniat untuk membalas pukulan dari Francis.
Nether udah siap dengan kuda-kuda nya. Biasa, emosi.
“Bruder, Nether, udah, udah! Jangan di bawa emosi!” tahan Ludwig melihat akan terjadi perkelahian.
Tapi, sepertinya, perkelahian itu tidak bisa dihindarkan. Yah – tidak terlalu besar sih, tapi tetep aja bikin rusuh.
.
.
“Hei, hei, sudahlah, kalian ini, jangan memperbesar masalah kecil!” kata Arthur menenangkan kedua belah pihak yang berkelahi.
“Tapi dia duluan tuh yang mulai!” protes Gilbert dan Francis bersamaan.
“Kalian ini, sudahlah!” kata Roderich dengan santainya.
“Ntar kalo ga baikan, kalian di diskualifikasi loh, mau?” kata Alfred seenaknya.
“Errr..” Gilbert dan Francis ga bisa ngomong.
Biasa, lelaki kalo udah berantem, susah di ajak baikan.
.
30 menit sebelum pengumuman camat dan lurah yang baru..
Gilbert memutuskan untuk berbicara dengan Eliza. Empat mata. Di tempat yang jarang di datangi orang. Karena ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini.
“Elizaveta? Aku merasa pernah mendengar nama itu,” ucap Gilbert pada Eliza.
Elizaveta diam sejenak, menatap mata Gilbert.
“Kau.. Kau Gilbert, kan? Kau Gilbert, teman masa kecilku, kan?” kata Elizaveta berkaca-kaca.
“Jadi benar, kau Eliza yang dulu?” Gilbert meyakinkan dirinya sendiri.
“Gil.. Akhirnya aku menemukanmu. Aku sudah mencarimu kemana-mana,” Elizaveta mulai terisak, lalu memeluk Gilbert.
Gilbert tercengang beberapa saat.
“Hey Eliza, NIE vor mir weinen** – karena itu adalah hal yang paling tidak awesome di dunia ini,” kata Gilbert menghapus butiran air mata yang mulai jatuh dari mata Elizaveta.
“Kau tidak pernah berubah ya, Gil,” ucap Elizaveta melepaskan pelukannya.
Ya, sejak kecil, Gilbert memang tidak suka melihat ada cewek nangis di depan matanya, terutama Elizaveta.
“Ngomong-ngomong, di sekitar matamu sepertinya bengkak tuh, tadi bekas ditonjok ama om-om berambut pirang itu,” lanjut Elizaveta tersenyum.
“Gara-gara tonjokan Francis tadi? Ah, biarin aja, ntar juga sembuh sendiri,” kata Gilbert sok kuat.
“Ntar tambah parah loh. Nanti aku kasih obat,” protes Elizaveta, mencium singkat pipi Gilbert, yang sukses membuat pipi Gilbert bersemu merah.
.
“Hoo, jadi kau baru saja bergabung dengan gadis berambut coklat muda itu?” Tanya Nether pada Nesia. Biasa, abang-abang ganteng ini lagi nyari gadis polos buat di godain (Author diinjek ama Nether).
“Iya, biasa, masalah keuangan. Ayah Cuma buruh pabrik, ibu jualan kecil-kecilan. Adikku ada 2, jadi aku harus bisa bantu ayah dan ibu,” jelas Nesia.
“Humm, neng geulis yang baik,” kata Nether, lalu meletakkan tangannya di atas kepala Nesia. Salah satu tangannya memegang pipa. Yeah, Nether suka merokok dengan menggunakan pipa.
Dan ngomong-ngomong, mereka ngobrol sambil jongkok-jongkok di luar ruangan. Kayak alay aja.
.
“Dan kini saatnya kita umumkan lurah dan camat yang baru!” kata Arthur bersemangat. Alfred dengan setia mendampingi Arthur.
“Hasilnya memang tidak jauh berbeda. Baik, untuk lurah dan camat yang baru, kami panggil, Gilbert dan Ludwig,” kata Alfred bersemangat – as always.
“West, kita menang! Ayo kita maju!” kata Gilbert bersemangat.
“Eh, sabar, Bruder!” kata Ludwig sambil membereskan barang-barangnya yang sempat berserakan.
.
“Yak, silahkan berikan kata sambutan, lurah dan camat yang baru!” kata Arthur ketika Gilbert dan Ludwig sudah di atas panggung.
“Eh.. Aduh. Mau ngomong apa, ya? Aku belom siap pidato nih!” kata Gilbert yang gelagapan karena beberapa ratus pasang mata memandang kea rah mereka berdua.
“Para hadirin, terima kasih karena telah memilih kami menjadi pengurus yang baru! Kami tidak akan mengecewakan anda semua!” kata Ludwig yang sudah merebut mic dari Gilbert.
Setelah pidato selama 5 menit, acara itu di tutup dengan eurofia kegembiraan. Biasa, makan-makan.
.
2 tahun kemudian..
Gilbert dan Eliza, serta nation yang lainnya sedang berlibur ke pantai. Pantai di selatan Amerika itu tampak indah sekali.
“Eliza, willst du mich heiraten?***" tanya Gilbert, saat mereka sedang berdua saja – di malam yang sepi itu.
“Eh.. Sic.. Sicher****,” kata Eliza kaget.
“Hei, kalian ini kalau mau bahagia, bagi-bagi dong! Masa kalian sendiri yang bahagia?” protes Roderich. Selidik punya selidik, Elizaveta adalah cinta lamanya Roderich ketika kuliah.
“Iya nih. Bruder, kau tidak bilang-bilang kalau kau mau melamar Eliza,” protes Ludwig.
Rupanya kawanan nation yg laen menguntit pasangan baru ini. Biasa lah, penasaran, apa aja yang diomongin sama mereka.
“Eh. KENAPA KALIAN MENGUPING AKU YANG AWESOME INI?!” protes Gilbert pada teman-temannya.
“HEH, ASEM, KAMI KAN PENASARAN, APA SAJA YANG KALIAN BICARAKAN!” teriak Arthur – tsundere-nya keluar.
“Sudah, sudah! Kalian ini, kok hobi banget sih berantem,” sahut Yao yang tiba-tiba muncul.
“YAO?! KATANYA KAMU SAKIT?!” teriak semua nation yang ada di tempat. Yah, Yao memang sedang sakit, tapi dengan ramuan aneh bin ajaib dari Ivan, ia segera sembuh dan menyusul teman-temannya bersama Ivan dan Kiku.
“Baru sembuh, ini kita juga baru nyampe,” sahut Yao, yang datang bersama Ivan dan Kiku.
Semua nation yg mendengarnya mendesah berat.
Yah, yah. Begitulah mereka. Liburan itu sukses membuat mereka semakin erat, walaupun masih sering berantem.
--Das Ende—
* Helft Mir: Help me!
** NIE vor mir weinen: Never cry in front of me (jangan pernah menangis di depanku.
*** willst du mich heiraten: will you marry me?
**** Sicher : Sure.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 01.36 0 komentar
Jumat, 30 September 2011
Love Number - a Bleach fanfic
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Story © aRaRaNcHa
Summary : Ketika cinta dapat diwakilkan dengan angka. Ketika cinta tidak hanya dengan kata.
*Makasih ya cha, atas kejutan kecilmu ini, beberapa bulan silam. Always love it* :3
--------------------------------------------------------------------------------
Satu. Satu kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh Matsumoto dan selalu memunculkan simpang empat di dahi Hitsugaya.
"Dimana? Kau sembunyikan dimana, Matsumoto?"
"Aku tidak menyembunyikannya lagi, Taichou."
Sake. Hitsugaya selalu gagal menemukan benda yang satu itu di sekitar Matsumoto. Dan ketika taichou berambut putih itu tidak dapat menemukannya, ia akan mendengus sebal lalu keluar dari ruangan.
"Awas kalau sampai ku temukan!" omelnya.
Hitsugaya akan sangat marah jika menemukan ada sake disekitar Matsumoto. Bukan, bukan karena ia takut Matsumoto akan meminumnya di dalam ruangan. Hanya saja, kalau Hisagi dan Kira bertandang ke divisi sepuluh seperti saat ini, akan lain ceritanya. Nantinya Hitsugaya pasti sangat kerepotan untuk memapah fukutaichounya yang mabuk—dan membuat keributan—itu.
Blam.
Pintu ditutup dan nyaris saja Matsumoto melompat gembira melihat taichounya pergi. Ia melirik ke arah Hisagi dan Kira yang tengah duduk di tengah ruangan.
"Nah, bagaimana kalau kita minum sake?" tawarnya.
"Matsumoto-fukutaichou?" Kira memandang heran.
Selanjutnya beberapa botol sake dikeluarkan oleh Matsumoto dari bawah meja kerja Hitsugaya.
"Aku tahu kalau Taichou pasti tidak akan mencarinya disini," jelasnya.
Hisagi dan Kira hanya menelan ludah, lalu saling berpandangan. Pintu kembali digeser, kemudian Hitsugaya muncul dengan tangan terlipat dan simpang empat di dahinya.
"Jadi... disitu?"
"T-Taichou..."
"MATSUMOTO!"
Dan walau Hitsugaya akan marah besar, Matsumoto tahu bahwa ketika ia kehilangan kesadarannya, tubuh kecil Hitsugaya cukup untuk memapahnya sampai ke rumah.
.
Dua. Dua pertemuan awal dengan Matsumoto yang merubah takdir Hitsugaya. Pertemuan singkat ketika Hitsugaya lagi-lagi diintimidasi karena rambut putihnya yang mencolok. Pertemuan singkat dengan masalah kecil juga—uang kembalian.
"Ini kembalinya," si penjual tersenyum licik sambil menarik uang kembalian yang akan ia berikan.
"..." Hitsugaya hanya menunduk.
"Hei! Apa seperti itu cara memberikan kembalian pada pembeli?" seorang wanita memprotes penjual itu, Hitsugaya hanya memandangnya heran.
Brak.
Karena hantaman—err—dorongan keras dari wanita bernama Matsumoto itu membuat Hitsugaya menabrak kumpulan kayu di belakangnya, lalu terhuyung.
"Kau juga jangan menangis saja! Jadilah anak laki-laki yang tegas!" omel Matsumoto pada Hitsugaya.
"Berisik! Kau tidak usah ikut campur!" omel Hitsugaya balik.
Kemudian seorang anak kecil yang tingginya kurang dari satu meter itu berlari menjauh dari seorang wanita yang—ia anggap—mengganggunya.
Tidak ada yang tahu, kalau wanita itu mengikuti Hitsugaya hingga ke rumah dan bahkan rela menghabiskan waktunya untuk sekedar memperhatikan anak itu. Tidak percuma, Matsumoto tahu jelas dari pertemuan pertama, bahwa Hitsugaya memiliki potensi untuk menjadi seorang shinigami kuat nantinya. Bahwa dengan reiatsunya saja, Hitsugaya mungkin bisa membunuh plus disekitarnya—termasuk sang nenek.
"Hei, bangun," ucap Matsumoto lembut.
Samar Hitsugaya mendengar suara itu dan membuka matanya lebar-lebar, memperlihatkan dengan jelas iris turquoisenya.
"Kau?"
"Shhtt... Kau bisa membunuh nenekmu kalau terus-terusan mengeluarkan reiatsu seperti itu."
"Eh?" Hitsugaya menoleh dan sang nenek sudah menggigil kedinginan.
"Anak kecil, aku hanya akan mengatakannya sekali. Jadilah shinigami."
"Shinigami?"
"Ya."
Dan pertemuan kedua karena reiatsu itu mengubah takdir Hitsugaya.
.
Tiga... dan lima. Ichimaru... dan Hinamori. Cemburu. Secara langsung maupun tidak, cemburu itu ada. Rasa sakit yang tak tertahan di dalam dada muncul ketika salah satu dari mereka ternyata begitu dekat dan berinteraksi. Baik Gin dengan Matsumoto atau pun Hitsugaya dengan Hinamori.
"Taichou... apa kau masih berpikir kalau Gi—maksudku, Ichimaru-taichou ada hubungannya dengan kematian Aizen-taichou?"
"Entahlah," Hitsugaya meneguk tehnya. "Ngomong-ngomong kalau kau sudah bangun, cepat selesaikan pekerjaanmu."
"Hee? Aku kira kau sudah menyelesaikan semuanya, Taichou."
"Berisik! Cepat kerjakan! Aku mau menemui Hinamori."
"Untuk apa?"
"Memperingatinya."
Hinamori adalah orang pertama yang terpenting untuk Hitsugaya dan Matsumoto tahu itu. Rasanya sama seperti Ichimaru yang menganggapnya penting.
Tapi ketika terpaksa melindungi, yang menjadi pilihan kadang tak terduga.
Trang.
Tajamnya ujung zanpakuto bernama Shinso nyaris saja menghancurkan Haineko. Namun, tidak ada itikad mundur dari si pemilik Haineko, ia malah memasang ekspresi keras hati.
"Tolong sarungkan pedang Anda, Ichimaru-taichou!"
"..."
"Kalau tidak Anda lakukan, dengan terpaksa... Anda harus berhadapan dengan saya."
Ichimaru cukup tercengang, lalu menarik kembali pedangnya. Tidak mungkin melawan orang yang amat ia sayangi itu. Tidak mungkin sanggup, sampai kapan pun. Tapi jelas sekali Matsumoto rela melindungi apa yang dilindungi Hitsugaya—Hinamori.
.
Empat. Empat musim lebih mereka lalui bersama. Musim gugur yang identik dengan warna rambut Matsumoto dan musim dingin yang identik dengan warna rambut Hitsugaya. Sesuai dengan ulang tahun mereka. Di penghujung bulan September dan Desember. Musim gugur dan musim dingin. Sesuatu yang cukup berlawanan.
"Taichou~, ayolah, aku kan sedang berulang tahun."
"Berulang tahun bukan berarti kau harus mengabaikan pekerjaanmu."
"Ayolah Taichou, kau kan jenius, dan pasti bisa mengerjakan semua paper work itu," tunjuk Matsumoto pada paper work yang menggunung.
"Tidak. Selesaikan pekerjaanmu, dan kau baru boleh pergi."
Matsumoto menggembungkan pipinya sebal, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Jangan berharap fukutaichou divisi sepuluh itu akan menggunakan waktunya untuk tenggelam ke dalam paper work. Belum selembar ia kerjakan, suara gaduh mengusik ketenangan divisi sepuluh.
"SELAMAT ULANG TAHUN, MATSUMOTO-FUKUTAICHOU!"
Siapa lagi kalau bukan para shinigami lain yang sudah diundang oleh Matsumoto? Dan Hitsugaya sepertinya harus menggunakan waktu istirahatnya lagi nanti malam untuk mengerjakan paper work yang masih tersisa. Mungkin saja tidak, kalau Matsumoto tidak menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya turut serta dalam pesta.
Tidak ada alasan untuk Hitsugaya bilang bahwa ia membenci keramaian. Mau bersembunyi dimana? Jangan lupakan bahwa pesta ini dirayakan di divisinya.
Lain cerita dengan ulang tahun Hitsugaya yang sederhana—hanya ditemani kembang api dan beberapa teman.
Duarr.
Kembang api lagi, entah sudah yang ke berapa. Iris turquoise Hitsugaya tidak berpindah dari kembang api itu. Seperti dirinya. Saat ini ia sedang menjalani hidupnya sebagai kembang api yang siap meledak di langit dan terlihat indah bagi siapa pun yang memandangnya.
"Selamat ulang tahun, Taichou."
"Selamat ulang tahun, Shiro-chan."
"Selamat malam dan selamat ulang tahun, Hitsugaya-taichou."
Sederhana. Tapi berada di tengah-tengah orang yang menyayanginya—dengan mengingat ulang tahunnya, bagi Hitsugaya, itu semua sudah lebih dari cukup. Aizen, Hinamori, dan... yah, tentu saja Matsumoto.
Dan jangan lupakan bahwa kembang api itu terkadang cukup berisik. Tapi bagi Hitsugaya, tidak masalah, selama masih ada yang lebih berisik dari kembang api itu—fukutaichounya. Orang yang selalu memeriahkan hidupnya dengan kejutan kecil seperti kembang api.
Karena perbedaan, adalah cara mereka saling melindungi, saling mengerti, saling memahami, dan saling mengisi. Dan itu terjadi ketika cinta tidak hanya diungkapkan lewat kata.
.
.
~O W A R I~
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 21.26 0 komentar
































