Well, setelah sekian lama, gue berhasil menemukan sesuatu untuk kembali nulis di sini.
Rabu, 04 April 2012
"Ngerelain" itu ga gampang
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 19.50 0 komentar
Rabu, 11 Januari 2012
Bad News in the morning
Lagi2 gue denger kabar yang kurang menyenangkan tadi pagi. Senior gue pas SMA, senior rohis, pula, nama nya Arum, baru aja meninggal jam 5 pagi. Meninggalnya gara2 ketiban pohon tumbang. Kejadiannya (gue yakin) minggu lalu, pas ujan angin. Yah, saat itu gue emang lagi di depok, dan ujan disana tuh nggak kenceng2 amat. Gue tau kalo jakarta ujan angin itu pas sampe stasiun gambir. Jalanan basah, ada pohon yang jatoh. Dan besoknya, gue denger kabar dari kak Debora kalo kak Arum kecelakaan. Yah, mungkin gue ga tau nama nya, tapi kalo liat muka, pasti gue tau.
Belom juga setahun, alumni 21 angkatan 2010 udah pergi 2 orang. Dulu pas bulan juni 2011, anak Teknik Kimia UI, alumni 21, kak Dini, meninggal gara2 ada penggumpalan di otak. Terus sekarang kak Arum, meninggal karena cedera parah di otak, yang di sebabkan pohon tumbang itu. Ah buseeet, kenapa banyak amat musibahnya :"
Gue pribadi, berduka cita banget karena gue pernah jadi junior mereka di sklh, pernah jadi adik mentor mereka.
Dan gue tau, Allah pasti sayang sama mereka karena dipanggil duluan. :")
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 20.15 0 komentar
Minggu, 01 Januari 2012
My OC(s)
Ciao~ Baru sekarang gue keinget nulis beberapa hal tentang 2 OC gue. Hehe. Stay tune!
Bleach
Name: Kisuke 'Hikari' Shihouin.
Date of Birth: Karakura Town, 2nd January (I dunno about the year)
Siblings: Hiroshi and Hirako (twins)
Height/Weight: 170 cms, 74 kgs
Occupation: student in Karakura Senior High School, Shinigami
Zanpakuto: Hikori Okami (火 氷 ドラゴン)
Command: Crush them all
Bankai: Douija Hikori Okami
Third seat of 10th division, captain in 5th division (later).
Spouse: Ulquiorra Schiffer (later)
Favourite food: Roasted chicken
First daughter of Kisuke Urahara and Yorouichi Shihouin
Be friend wth Ichigo and the gank, Hinamori and Rangiku
Yu-Gi-Oh! GX
Name: Alicia Rhodes
Date of Birth: Domino City, 2nd January 1992
Siblings: Atticus Rhodes and Alexis Rhodes
Dormitory: Ra Yellow (as a freshman and sophomore student), Obelisk Blue (as a senior student)
Spouse: Bastion Misawa (later)
Deck: Stable deck; Undersky deck
Favourite food: Chinesse food
Favourite card(s): Blue Eyes White dragon and Dark Magician Girl.
Be friend with Jaden and the gank.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 19.00 0 komentar
Rabu, 07 Desember 2011
I'm the Griffindor one!
The sorting hat says that I belong in Gryffindor!
Said Gryffindor, "We'll teach all those with brave deeds to their name."
Students of Gryffindor are typically brave, daring, and chivalrous.
Famous members include Harry, Ron, Hermione, Albus Dumbledore (head of Hogwarts), and Minerva McGonagall (head of Gryffindor).
Take the most scientific Harry Potter
Quiz ever created.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 02.20 0 komentar
Rabu, 23 November 2011
Last night.
Well well, sebenernya gue ga tau harus nulis ini ato nggak.
Gue mimpi *cukup* aneh kemaren. Gue terapung sendiri (nggak sendiri sih, gue ditemenin ama seekor lumba-lumba warna pink) -- di tengah laut gitu. Terus. Yang paling aneh adalah; ternyata mimpi gue itu ada di dunia-nya Hetalia.
Di tengah-tengah keadaan yang udah capek banget, tiba2 ada kapal yang ngedeketin gue. Guess what? Itu kapalnya Ludwiiiig~ Oh SH*T man, ga salah, nih?! Oke, first, gue diselamatkan oleh seorang karakter berkebangsaan Jerman yang seksi abis, Ludwig. Ternyata, di kapal itu Ludwig ga sendiri. Dia bareng sama Gilbert (ato siapalah namanya itu), kakaknya. Rambutnya putih dengan mata merah (agak) menyeramkan. Si Gilbert ini lagi gendong2 anak yang kayaknya mirip banget sama dia, dan sedang ketawa2 bareng seorang wanita cantik berambut coklat, Err.. Elizaveta, looks like that. Entah apa yang akan mereka lakukan di kapal ini.
"Kita mau liburan di kepulauan milik Alfred. Tadi temanku, Feli, udah ke sana duluan, bareng yang yang laen," kata Ludwig. Datar. Gue makin bingung.
Sampe di pulau itu, gue sendiri terpukau. Cantik. Sekali.
"Nyuu, Ludwiggg, akhirnya kau sampai jugaa," kata seseorang berambut merah, lumayan imut.
"Hei, sudahlah, Feli, kau ini," balas Ludwig malu-malu.
Well, Feli ini imut banget jadi cewek. *sori, dalam mimpi gue, ternyata 'Feli' itu adalah Fem!Italy*
"Kau ngajak siapa, Lud?" tanya Feli.
"Err.. Tadi dia terapung di laut, sekalian aja aku bawa ke sini."
"Oooh."
Feli berajalan mendekatiku.
"Ciao. Aku Feliciana," katanya padaku, sambil mengulurkan tangannya.
"Ha.. Halo. Shabrina," jawabku membalas uluran tangannya.
AAA, GUE MIMPI KAYAK BEGINI, KENAPAAA?!
Gue diajak masuk oleh Feli, untuk menaruh barang sekaligus memberi makan peliaharanku, si lumba-lumba pink. Ketika masuk, aku bertemu seorang lelaki sedang membaca buku, bertelanjang dada, dengan alis yg super-duper tebel (sumfah, lebih tebel dari yg di anime) -- Yah, siapa lagi kalo bukan Arthur. Ia hanya mengangguk ketika Feli dan aku lewat.
Gue dikenalin ama temen2 mereka. Dan yang menurut gue bener2 imut aslinya, adalah Yao. Jauh lebih imut dari anime-nya. Ivan juga, tingginya jauh dari perkiraan.
Oh well, endingnya: gue diajak maen sama mereka. Dan anehnya gue langsung iya2 aja. Padahal, sebenernya, gue butuh penyesuaian paling ga 1 hari..
SUMPAH. GUE EMANG SERING NGOMONGIN HETALIA SAMA TEMEN GUE, TAPI GUE GA NYANGKA KALO HAL ITU BISA SAMPE KEBAWA MIMPI.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 21.04 0 komentar
Selasa, 22 November 2011
3 months as a freshman
"Don't judge a book by it's cover".
Kalimat yang selalu gue inget, tapi susahnya minta ampun buat dilakukan. Suer, deh. Yah, itulah yang gue alami selama kurang lebih 3 bulan ini.
First, I'm a freshman in University of Indonesia. Fakultät für Psychologie. Gott sei Dank, dass Sie meinen Weg näher an meinen Traum. Yah, walau nyangkutnya di kelas paralel, sih. :)
Second, I have a lot of new friends. But I only close with few of them. Thanks God (again), you make my day brighter by some new friends.
Third, I hear gossip that 1 of my friend is gay. What? I really don't believe it. I checked it at his facebook, and it's true what my friends' words. *Sighed*
But, time flies. Very fast. And you know, he doesn't like what I think. Also, he is not gay. He still love girls, but also boys, too (yeah, it's better, I think). I don't really get it, but he really a nice guy. Err.. A little different from another boys, but he really2 a nice guy! His style (maybe) looks like a gals, but it's not the problem, right?
From the third point, I learn that we can't judge someone only by hearing a gossip, or just searching his social life in facebook, but we also need to learn directly by be friend with him/her.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 05.20 0 komentar
Sabtu, 08 Oktober 2011
AKU dan DIA
Human names used.
Enjoy!
Mereka, Gilbert Weillschmidt dan Elizaveta Héderváry, adalah sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Tapi, itu ketika mereka masih balita. Mereka dipisahkan karena keegoisan orang dewasa.
“Gil! Kamu mau pergi ke mana?” teriak Elizaveta ketika melihat sahabatnya, Gilbert, ditarik pergi oleh nation yang sudah dewasa, entah kenapa.
“Eliza, helft mir*!” teriak Gilbert yang sudah kepayahan menahan agar ia tidak ditarik.
Elizaveta berlari untuk menolong Gilbert.
“Nona Eliza, kau di sini saja, tidak perlu menolongnya,” kata nation yang lain, menahan Elizaveta untuk tidak menolong Gilbert.
“Tapi..” Eliza tidak kuasa menahan tarikan nation itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Eliza.
Ya, mereka terpisah untuk alasan egois orang dewasa.
23 tahun kemudian..
“Baiklah saudara-saudara! Hari ini kita akan mengadakan pemilihan lurah yang baru!” kata sang lurah lama, Arthur Kirkland.
“Dan kita sambut, calon lurah dan wakilnya yang pertama, Roderich Edelstein dan Francis Bonnefoy!” teriak si camat lama, Alfred F. Jones.
Pasangan aneh bin ajaib (author dilempar grand piano ama Roderich) ini naik ke atas panggung.
“Yo, saya Roderich,” ucap Roderich, memperkenalkan dirinya singkat, sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Dan saya Francis, si cowok romantis,” kata Francis sambil melempar senyuman terindahnya.
Para wanita hampir saja nosebleed, tapi nggak jadi.
“Dan kami adalah fans dari marie Antoniette! Jangan lupa coblos bunga mawar!” lanjut Francis bersemangat.
Yang nonton sweatdrop.
“Oke, oke, silahkan turun, wahai lelaki cantik,” kata Arthur, yang disertai oleh jitakan Roderich dan Francis di alis Arthur.
“Selanjutnya, pasangan kakak beradik bishie, Gilbert Weillschmidt dan Ludwig van Beethoven, eh salah, Ludwig aja, maksudnya!” ucap Alfred bersemangat.
“Hallo, minna-san! Saya si awesome Gilbert,” kata Gilbert dengan PD-nya.
“Dan saya Ludwig,” sambung Ludwig.
“Kami cowok Aria seksi~” sambung Gilbert sekali lagi, yang disertai siulan dari penonton.
“Oke penonton! Sekarang tinggal bagaimana anda memilih! Jangan sampai anda menyesal karena salah pilih!” ucap Alfred dengan semangatnya.
Arthur sibuk menghasut para penonton biar memilih pasangan Gilbert dan Arthur.
.
.
“Berhubung pengumuman pemenangnya baru diadakan nanti sore, kami, selaku pengurus yang lama, ingin mengadakan sedikit hiburan! Kami mengundang penyanyi dangdut local yang terkenal, Elizaveta Héderváry dan Nesia Wulandari~” teriak Alfred dan Arthur hampir berbarengan.
Elizaveta dan Nesia naik ke atas panggung bersama orchestra musiknya.
“Elizaveta.. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu,” gumam Gilbert.
“Hem? Ada apa, Bruder?” Tanya Ludwig yang sedang duduk di sebelahnya.
“Ah, tidak apa, kok,” kata Gilbert tersenyum, memamerkan sederet giginya yang putih.
“Veee~” ucap sebuah suara, tiba-tiba, dan memeluk Ludwig.
“Fe.. Feliciano, ngapain kamu di sini?” Tanya Ludwig kaget melihat “uke”nya tiba-tiba datang.
“Tidak, aku hanya bosan saja di rumah, dan aku ingin melihat acara hiburannya,” jawab Feliciano dengan santainya.
.
“Yak saudara-saudara sekalian, saya bersama dengan teman-teman saya datang untuk menghibur anda semua!” kata Eliza, sang penyanyi dangdut berambut coklat muda ini.
Para penonton –yang rata-rata adalah pemuda—langsung bersiul riuh rendah, karena kedua wanita ini adalah wanita yang cantik dan anggun, dengan pakaian menawan.
Musik mulai mengalun, dan kedua wanita itu mulai menyanyi.
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Alfred udah joget-joget gaje. Tadinya dia udah ngajak Arthur untuk menemaninya, tapi Arthur menolak, karena ia masih sibuk menghasut para pemilih untuk memilih pasangan Gilbert dan Ludwig.
Francis juga, udah sibuk sendiri, dia begitu terpesona dengan gaya kedua wanita pedangdut itu.
Gilbert masih sibuk mikir, apakah ia pernah mengenal Elizaveta atau tidak.
Ludwig asyik mojok (?) sama Feliciano.
Nether –yang tau-tau udah ada di sebelah Gilbert-- , nyenggol temen sebelahnya, “Ini penyanyi kok cakep dua-duanya, ya?” ucapnya.
“Hmmm, hmmm, tapi tidak se-awesome aku,” kata Gilbert seenaknya.
“Kau ini, masiiiih saja menganggap diri mu awesome! Asem kale yeee,” kata Nether sambil menjambak rambut putih Gilbert.
“Eeeehh.. Ampun, ampuun,” ucap Gilbert sambil mengaduh kesakitan.
Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan
Selesai lagu itu, para penonton tampaknya begitu terbuai dengan Eliza dan Nesia. Francis langsung naik ke atas panggung, memberikan berpuluh-puluh bunga mawar pada penyanyi.
“Woy Francisss~ Jangan curang kamuu!” protes Gilbert dan Nether – yg langsung ikut-ikutan mendekati panggung, lalu menarik kaki Francis. Francis kehilangan keseimbangan – dan jatuh.
“Apa-apaan kaliaaan~~” ucap Francis marah – spontan memberikan bogem mentah ke Gilbert dan Nether.
“Heh, kau yang mulai duluan, mesum!” protes Gilbert, yang mencubit pipi Francis dan berniat untuk membalas pukulan dari Francis.
Nether udah siap dengan kuda-kuda nya. Biasa, emosi.
“Bruder, Nether, udah, udah! Jangan di bawa emosi!” tahan Ludwig melihat akan terjadi perkelahian.
Tapi, sepertinya, perkelahian itu tidak bisa dihindarkan. Yah – tidak terlalu besar sih, tapi tetep aja bikin rusuh.
.
.
“Hei, hei, sudahlah, kalian ini, jangan memperbesar masalah kecil!” kata Arthur menenangkan kedua belah pihak yang berkelahi.
“Tapi dia duluan tuh yang mulai!” protes Gilbert dan Francis bersamaan.
“Kalian ini, sudahlah!” kata Roderich dengan santainya.
“Ntar kalo ga baikan, kalian di diskualifikasi loh, mau?” kata Alfred seenaknya.
“Errr..” Gilbert dan Francis ga bisa ngomong.
Biasa, lelaki kalo udah berantem, susah di ajak baikan.
.
30 menit sebelum pengumuman camat dan lurah yang baru..
Gilbert memutuskan untuk berbicara dengan Eliza. Empat mata. Di tempat yang jarang di datangi orang. Karena ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini.
“Elizaveta? Aku merasa pernah mendengar nama itu,” ucap Gilbert pada Eliza.
Elizaveta diam sejenak, menatap mata Gilbert.
“Kau.. Kau Gilbert, kan? Kau Gilbert, teman masa kecilku, kan?” kata Elizaveta berkaca-kaca.
“Jadi benar, kau Eliza yang dulu?” Gilbert meyakinkan dirinya sendiri.
“Gil.. Akhirnya aku menemukanmu. Aku sudah mencarimu kemana-mana,” Elizaveta mulai terisak, lalu memeluk Gilbert.
Gilbert tercengang beberapa saat.
“Hey Eliza, NIE vor mir weinen** – karena itu adalah hal yang paling tidak awesome di dunia ini,” kata Gilbert menghapus butiran air mata yang mulai jatuh dari mata Elizaveta.
“Kau tidak pernah berubah ya, Gil,” ucap Elizaveta melepaskan pelukannya.
Ya, sejak kecil, Gilbert memang tidak suka melihat ada cewek nangis di depan matanya, terutama Elizaveta.
“Ngomong-ngomong, di sekitar matamu sepertinya bengkak tuh, tadi bekas ditonjok ama om-om berambut pirang itu,” lanjut Elizaveta tersenyum.
“Gara-gara tonjokan Francis tadi? Ah, biarin aja, ntar juga sembuh sendiri,” kata Gilbert sok kuat.
“Ntar tambah parah loh. Nanti aku kasih obat,” protes Elizaveta, mencium singkat pipi Gilbert, yang sukses membuat pipi Gilbert bersemu merah.
.
“Hoo, jadi kau baru saja bergabung dengan gadis berambut coklat muda itu?” Tanya Nether pada Nesia. Biasa, abang-abang ganteng ini lagi nyari gadis polos buat di godain (Author diinjek ama Nether).
“Iya, biasa, masalah keuangan. Ayah Cuma buruh pabrik, ibu jualan kecil-kecilan. Adikku ada 2, jadi aku harus bisa bantu ayah dan ibu,” jelas Nesia.
“Humm, neng geulis yang baik,” kata Nether, lalu meletakkan tangannya di atas kepala Nesia. Salah satu tangannya memegang pipa. Yeah, Nether suka merokok dengan menggunakan pipa.
Dan ngomong-ngomong, mereka ngobrol sambil jongkok-jongkok di luar ruangan. Kayak alay aja.
.
“Dan kini saatnya kita umumkan lurah dan camat yang baru!” kata Arthur bersemangat. Alfred dengan setia mendampingi Arthur.
“Hasilnya memang tidak jauh berbeda. Baik, untuk lurah dan camat yang baru, kami panggil, Gilbert dan Ludwig,” kata Alfred bersemangat – as always.
“West, kita menang! Ayo kita maju!” kata Gilbert bersemangat.
“Eh, sabar, Bruder!” kata Ludwig sambil membereskan barang-barangnya yang sempat berserakan.
.
“Yak, silahkan berikan kata sambutan, lurah dan camat yang baru!” kata Arthur ketika Gilbert dan Ludwig sudah di atas panggung.
“Eh.. Aduh. Mau ngomong apa, ya? Aku belom siap pidato nih!” kata Gilbert yang gelagapan karena beberapa ratus pasang mata memandang kea rah mereka berdua.
“Para hadirin, terima kasih karena telah memilih kami menjadi pengurus yang baru! Kami tidak akan mengecewakan anda semua!” kata Ludwig yang sudah merebut mic dari Gilbert.
Setelah pidato selama 5 menit, acara itu di tutup dengan eurofia kegembiraan. Biasa, makan-makan.
.
2 tahun kemudian..
Gilbert dan Eliza, serta nation yang lainnya sedang berlibur ke pantai. Pantai di selatan Amerika itu tampak indah sekali.
“Eliza, willst du mich heiraten?***" tanya Gilbert, saat mereka sedang berdua saja – di malam yang sepi itu.
“Eh.. Sic.. Sicher****,” kata Eliza kaget.
“Hei, kalian ini kalau mau bahagia, bagi-bagi dong! Masa kalian sendiri yang bahagia?” protes Roderich. Selidik punya selidik, Elizaveta adalah cinta lamanya Roderich ketika kuliah.
“Iya nih. Bruder, kau tidak bilang-bilang kalau kau mau melamar Eliza,” protes Ludwig.
Rupanya kawanan nation yg laen menguntit pasangan baru ini. Biasa lah, penasaran, apa aja yang diomongin sama mereka.
“Eh. KENAPA KALIAN MENGUPING AKU YANG AWESOME INI?!” protes Gilbert pada teman-temannya.
“HEH, ASEM, KAMI KAN PENASARAN, APA SAJA YANG KALIAN BICARAKAN!” teriak Arthur – tsundere-nya keluar.
“Sudah, sudah! Kalian ini, kok hobi banget sih berantem,” sahut Yao yang tiba-tiba muncul.
“YAO?! KATANYA KAMU SAKIT?!” teriak semua nation yang ada di tempat. Yah, Yao memang sedang sakit, tapi dengan ramuan aneh bin ajaib dari Ivan, ia segera sembuh dan menyusul teman-temannya bersama Ivan dan Kiku.
“Baru sembuh, ini kita juga baru nyampe,” sahut Yao, yang datang bersama Ivan dan Kiku.
Semua nation yg mendengarnya mendesah berat.
Yah, yah. Begitulah mereka. Liburan itu sukses membuat mereka semakin erat, walaupun masih sering berantem.
--Das Ende—
* Helft Mir: Help me!
** NIE vor mir weinen: Never cry in front of me (jangan pernah menangis di depanku.
*** willst du mich heiraten: will you marry me?
**** Sicher : Sure.
Diposting oleh Shabrina Ambarsari di 01.36 0 komentar
